Recent Post

3 Vs 1

Sesal yang datang selalu, tak kan membuatmu kembali, maafkan aku yang tak pernah tau hingga semuanyapun kini tlah berlalu, maafkan aku.




Namaku Patrick dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya “kanguru”. Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku.
Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Jho’oon shira. Jho’oon yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.
Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain komputer, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
“Bisa saya bantu?” kataku kepada mereka.
“Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Jho’oon dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang.”
Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.
“Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya,” jawabku.
“Memangnya kalian tidak tahu kalau si Jho’oon sedang pulang kampung dua hari yang lalu?” lanjutku lagi.
Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab,
“Kurang ajar si Jho’oon, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!”
“Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih,” yang berwajah oriental protes.
“Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Jho’oon,” sekarang bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga.
“Iya deh, sekalian numpang minum,” kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.
Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
“Nama saya Patrick,” kataku.
“Kei’rien,” kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul,
“Meywan,” (Campuran Italia dengan Inggris).
“Saya There,” gadis bermata biru ini asal Jerman.
“Patrick, kamu berasal dari mana?” lanjutnya.
“Jakarta, Indonesia,” jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Kei’rien dan There sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
“Aduh, panas sekali nich?!” si Meywan ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.
Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Meywan sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si There,
“Patrick, boleh kami main internetnya?”
“Silakan,” jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.
“Mau nge-chat yah?” tanyaku sambil tersenyum pada si Meywan.
“Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan,” lanjut Meywan lagi.
“Eh, kaliankan masih di bawah umur?” kataku mencoba untuk protes.
“Paling umur kalian 17 tahun kan?” sambungku lagi.
Kei’rien menyambut, “Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja.” Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Meywan, si There datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar “dewasa” yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Kei’rien duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Kei’rien yang lebih putih dari punyanya si Meywan. Kemaluanku terasa berdenyut. Setengah kencang.
Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki kemaluan besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan kemaluan laki-laki putih yang tak kalah besar kemaluannya dengan kemaluan si negro itu. Terasa kemaluanku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Meywan menghampiri kami berada, karena si There dan Kei’rien tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Kei’rien tersentuh kemaluanku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya,
“Ada apa?” There menjawab, “Kei’rien bilang, sikutnya terbentur kemaluanmu,” katanya.
Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab,
“Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal.” Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak kemaluanku. Si There bertanya padaku sambil tersipu,
“Patrick, boleh nggak kalau kami lihat kemaluanmu?”
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
“Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur.”
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
“Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji,” si Meywan mewakili mereka.
“Please Patrick!” sambungnya.
“Oke, tapi jangan diketawain yah!” ancamku sambil tersenyum nafsu.
Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak kemaluanku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
“Gila gede banget!” kata mereka hampir berbarengan lagi.
“Nah! Sekarang apa lagi?” tanyaku.
Tanpa menjawab Kei’rien dan Meywan menghampiriku, sedangkan There masih berdiri tertegun memandang kemaluanku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya.
“Boleh kupegang Patrick?” tanya Kei’rien sambil jari telunjuknya menyentuh kepala kemaluanku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab,
“Uuuh…” karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang There masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Meywan yang sedang mencoba menggenggam kemaluanku, dan aku merasa sedikit sakit karena Meywan memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Meywan, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku,
“Kamu punya film dewasa Patrick?” Sambil terbata-bata kusuruh There untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta There lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap kemaluannya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si There menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala kemaluanku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Kei’rien di bagian kepala dan lidah Meywan di bagian bijiku.
“Uuh… ssshh… uuuhh… ssshhh…” aku merasa nikmat.
Kupanggil There ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas There memburu.
“Patrick… ooohh… Patrick… terusss… ooohhh…” nikmat There terdengar.
Kemudian terasa setengah kemaluanku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Kei’rien sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.
“Slep… slep… chk… chk…”
Itulah yang terdengar paduan suara antara kemaluanku dan mulut Kei’rien. Meywan masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar There menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Meywan untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.
“Aaahhh… Patrick… aaahhh… enak Patrick… teruskan… aaahhh… terussss Patrick!” jerit Meywan.
Ternyata There sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah kemaluannya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah kemaluan There, terasa menggigil kemaluan There.
“Aaaahhh…” There sampai puncaknya.
Aku pun mulai merasa menggigil dan kemaluanku terasa semakin kencang di mulut Kei’rien, sedangkan mulutku belepotan di depan kemaluan Meywan, karena Meywan tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi,
“Aahhh…” Sambil meninggalkan kemaluan Meywan, kutarik kepala Kei’rien dan menekannya ke arah kemaluanku. Terdengar,
“Heeerrkk…” Rupanya Kei’rien ketelak oleh kemaluanku dan mencoba untuk melepaskan kemaluanku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah kemaluanku. Akhirnya gelengannya melemah Kei’rien malah memaju mundurkan kepalanya terhadap kemaluanku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali,
“Sudah… sudah… aku ngiluuu… sudah…” pintaku. Tapi Kei’rien masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Kei’rien, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Kei’rien menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya,
“I Love you, Patrick!” aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata,
“Thank you Kei’rien!”
Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat There sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Meywan yang ternganga memandang ke arahku dan Kei’rien. Mungkin Meywan mendengar apa yang telah diucapkan oleh Kei’rien. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami.
Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Kei’rien. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Kei’rien lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar There dan Meywan sudah jarang bergaul dengan Kei’rien. TAMAT

Kisah malang Hellena

Ini merupakan kisah lain dari Helena (dalam cerita “Aku Tidak Mau.. Tapi Aku Menikmatinya). Karena kebebasan yang diberikan suami dan kebutuhan seks yang besar serta mungkin juga karena rasa terlalu percaya kepada orang lain, akhirnya membuat kehidupan Helena menjadi serba ketakutan. Helena terjebak dalam satu kegiatan tindak pemerasan.


Kasus ini sempat jadi berita besar di salah satu harian ternama Jakarta pada awal bulan Oktober tahun ini, dan kasusnya masih dalam penyelidikan pihak kepolisian sampai dengan detik saat cerita ini saya buat. Merupakan suatu kehormatan yang sangat besar buat saya karena Helena, sang pelaku korban sendiri, mau membagi kisahnya untuk saya reka jadi sebuah cerita..
*****
Berawal sejak sekitar enam bulan yang lalu, saat secara tidak sengaja Helena, saat ini 30 tahun, berkenalan dengan Dewi, wanita berusia sekitar 45 tahunan di satu Mall di Jakarta Utara. Sejak itu Helena sering diajak berkumpul dengan teman-teman Dewi di satu apartemen di Jakarta Utara pula entah untuk arisan, senam, atau untuk sekedar mengobrol.
Helena mengira bahwa group tersebut adalah perkumpulan biasa dari para ibu kelas atas yang dilakukan sekedar untuk mengisi waktu. Mereka berjumlah sekitar 7 orang, rata-rata berumur 45 sampai 50 tahunan. Sampai pada suatu hari..
“Eh, Helena.. Nanti siang kita akan kedatangan tamu istimewa”, kata Dewi.
“Tamu istimewa apa? Siapa?”, kata Helena polos.
“Kamu lihat saja nanti, kamu pasti suka..”, kata Ratna, orang yang dianggap ketua dari group tersebut.
“Apalagi kamu selalu berpakaian seksi begitu..”, kata Dewi sambil menatap penampilanku dari atas sampai bawah.
Saat itu, sesuai dengan tingkat kehidupan Helena yang dari kalangan atas, penampilan Helena selalu seksi dan glamour. Dengan memakai baju terusan katun sebatas paha, 20 cm di atas lutut hingga membuat Helena tampak seksi menggairahkan.
“Nah itu dia datang!”, teriak Ratna ketika mendengar bel di pintu berbunyi. Ratna segera bergegas membuka pintu apartemen dan mempersilakan tamunya masuk.
“Hallo semua.. Saya datang tepat waktu kan? Tepat jam 11.00..”, kata Ronny, lelaki itu, sambil melihat arlojinya.
“Tenang saja, Pak Ronny.. Anda datang kapan pun, kita selalu welcome..”, kata Dewi sambil tertawa dan melirik Helena.
“O iya, Pak.. Kenalkan ini Helena..”, kata Dewi memperkenalkan Helena.
“O ini Helena..?”, kata Ronny sepertinya sudah tidak asing mendengar nama Helena.
“Ya, saya Helena”, kata Helena sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Saya Ronny. Anda sangat cantik sekali..”, kata Ronny sambil menyambut tangan Helena.
“Terima kasih..”, kata Helena sambil tersenyum lalu segera melepaskan tangannya dari genggaman Ronny yang sangat erat.
“Hei! Jangan pada berdiri. Mari sini Pak, sudah saya sediakan semua..”, kata Ratna sambil tersenyum kepada Ronny, pria dandy yang berusia sekitar 50 tahun itu.
Mereka segera berpindah ke ruangan lain dimana Helena bisa melihat bahwa di meja sudah tersedia beberapa botol minuman keras serta beberapa bungkus kecil benda berbentuk bubuk putih beserta alat hisap serta sebuah jarum suntik.
“Naahh! Ini baru asyik!”, kata Ronny senang.
“Ayo kita have fun!”, ajak Ronny.
“Ayo!”, kata Ratna.
Akhirnya Ronny, Dewi dan Ratna duduk bersama dan segera menikmati semua yang telah tersedia. Sementara Helena karena merasa tidak terbiasa, segera pamit ke ruangan lain dan menonton televisi. Terdengar oleh Helena sesekali mereka menyebut-nyebut namanya, entah membicarakan apa karena tidak jelas.
“Helena sayang, bisa minta tolong ambilin kue di kulkas nggak?”, terdengar suara Dewi meminta bantuan.
“Iya, sebentar aku ambilkan!”, teriak Helena sambil bangkit lalu pergi menuju dapur. Helena segera membuka kulkas lalu mengeluarkan kue untuk dipotong-potong. Helena tak mengetahui kalau Ronny sudah berada di belakangnya.
“Tubuh anda mulus sekali..”, bisik Ronny sambil meraba punggung Helena yang terbuka.
“Ya Tuhan! Anda bikin kaget saya saja..”, teriak Helena. Ngapain sih ini orang? Kurang ajar amat!, umpat Helena dalam hati.
“Tak sangka anda begitu montok dan menggairahkan walau sudah punya anak..”, kata Ronny lagi sambil meremas pantat Helena. Bahkan tangannya berani menelusuri lekukan belahan pantat Helena.
“Hei! Anda jangan kurang ajar begini! Saya tidak suka!”, bentak Helena lalu pergi meninggalkan Ronny. Ronny hanya tersenyum..
“Kurang ajar tuh orang!!”, teriak Helena sambil cemberut.
“Kenapa sih, Helena?”, kata Dewi sambil tersenyum.
“Gila tuh orang! Pegang-pegang tubuh, remas-remas pantat otang seenaknya?”, kata Helena.
“Yee, harusnya kamu bangga dong.. Artinya kamu sangat menarik loh..”, kata Dewi lagi sambil menuang minuman ke gelas.
“Nih, minum dulu biar agak enakan..”, kata Dewi sambil menyodorkan gelas itu ke Helena.
“Sebel aku dengan orang itu..”, kata Helena sambil meneguk minuman tersebut.
“Sudahlah, sayang.. Biarkan saja dia..”, kata Dewi sambil menambahkan minuman ke gelas Helena.
Helena kembali meneguk minumannya sampai habis, lalu bangkit dan segera menuju kamar dengan maksud memisahkan diri dari mereka. Tapi setibanya di kamar, Helena merasakan tubuhnya dingin dan penglihatannya kabur. Badannya limbung. Helena heran karena tidak mungkin dia mabuk dengan minum beralkohol sejumlah yang dia minum tadi. Helena segera keluar dan menuju ruang tamu dengan niat akan berpamitan pulang karena merasa tidak enak badan.
“Aku mau pulang, Wi..”, kata Helena dengan tubuh berdiri limbung.
“Mau kemana, sayang.. Di sini aja dulu..”, kata Ratna sambil menarik tangan Helena hingga terduduk diapit tubuh Ratna dan Ronny.
“Lagian barusan Pak Ronny mengajukan tawaran bisnis yang banyak menguntungkan buat kita..”, kata Ratna lalu dengan panjang lebar menceritakan tawaran bisnis yang menggoda iman Helena.
“Gimana sayang? Kamu mau ikut?”, tanya Ratna.
“Kalau begitu sih aku ikut..”, kata Helena dengan mata sayu.
“Well done.. Kalau begitu kita rayakan deal bisnis kita..”, kata Ronny sambil merangkul dan menyodorkan gelas minuman kecil kepada Helena.
Helena mengambil dan meneguknya sebagai rasa penghormatan. Rasanya manis sedikit asam.
“Aduh, kenapa aku jadi tidak enak badan begini?”, kata Helena tak lama berselang.
“Aku ke dapur dulu..”, kata Helena lalu bangkit dan berjalan sempoyongan menuju dapur untuk minum air putih.
“Hei!!”, jerit Helena ketika dia merasakan ada tangan yang mendekapnya dari belakang.
“Lepaskan aku..”, suara Helena lemah.
“Tenang saja sayang.. Nikmati yang ada..”, terdengar suara Ronny sambil menciumi pundak dan tengkuk Helena, sementara tangannya meremas buah dada Helena. Terasa oleh Helena celana bagian depan Ronny sudah menggembung keras mendesak-desak pantatnya.
“Ohh.. Lepass.. kann..”, jerit Helena lirih sembari agak berontak untuk melepaskan remasan tangan Ronny pada buah dada dan pantatnya. Akibat pemberontakan tersebut tak sengaja tangan Ronny menyentuh dan menarik tali baju Helena hingga terlepas merosot ke lantai.
“Sudahlah sayang.. Nikmati saja surga dunia ini..”, terdengar suara Dewi, kemudian tertawa ketika melihat kondisi Helena. Ratna juga ikut mentertawakan sambil memegang kamera digital, sesekali Ratna mengambil gambar Helena dan Ronny.
“Aku mau pull.. pullangg..”, jerit Helena sambil berusaha lari ke kamar dalam keadaan setengah telanjang sempoyongan.
Tapi di tengah ruangan tubuhnya ambruk ke lantai. Ronny dan Dewi segera memapah tubuh Helena ke kamar dan dibaringkannya di ranjang. Dewi dan Ratna segera menjauh dari ranjang, sedangkan Ronny dengan bernafsu melepas semua pakaian dalam Helena, lalu kemudian melepas semua pakaiannya sendiri.
“Ohh.. Jangaann..”, jerit lirih Helena ketika mulut dan lidah Ronny menciumi dan menjilati buah dada seta puting susunya. Sementara tangan Ronny turun meraba dan menggosok-gosok memek Helena.
“Ohh.. Le.. Le.. Lepasskann..”, desah Helena ingin berontak di sela-sela kenikmatan yang mulai dirasakannya.
“Ooww.. Ohh..”, desah Helena keras ketika mulut Ronny turun ke perut lalu dengan liar lidahnya menjilati belahan memek Helena. Entah karena pengaruh minuman yang diminum, entah karena libido Helena yang terbilang tinggi, perasaan ingin berontak yang tadi ada lama-lama hilang diganti dengan kenikmatan atas perlakuan Ronny atas dirinya.
“Ohh.. Ohh.. Oohh!”, tubuh Helena berguncang keras ketika terasa ada cairan hangat yang menyembur di dalam memeknya disertai rasa nikmat yang luar biasa seiring jilatan lidah Ronny pada kelentitnya yang liar.
“Nikmat sayang?”, tanya Ronny sambil bangkit berdiri lalu menindih tubuh Helena.
Helena sudah tidak mampu menjawab pertanyaan Ronny karena pikiran dan perasaannya telah penuh dipengaruhi alkohol yang diminumnya. Yang dirasakan Helena adalah rasa melayang dan gairah yang menggebu untuk bersetubuh. Sekilas mata Helena melihat Dewi dan Ratna berdiri tak jauh dari ranjang sambil tertawa dan memotret dirinya serta Ronny.
“Oww.. Enak sekali sayang..”, desah Helena antara sadar dan tidak ketika terasa kontol Ronny yang tegang dan tegak telah keluar masuk memeknya.
“Kamu sudah punya anak tapi jepitan memekmu enak sekali..”, kata Ronny dengan nada berat seiring pompaan kontolnya di memek Helena.
Entah sudah berapa lama kali Helena berganti posisi dan entah sudah berapa kali pula Helena mendapatkan orgasme. Helena sudah tidak ingat sama sekali. Yang terasa olehnya hanya rasa nikmat disetubuhi Ronny.
“Ohh..! Mmhh..!”, hanya desahan demi desahan yang keluar dari mulut Helena beserta geliat tubuhnya ketika menikmati rasa yang teramat nikmat seiring keluar masuknya kontol Ronny di memeknya.
“Ohh! Fuck you girl! Fuck you!”, kata Ronny sembari mempercepat pompaan kontolnya ketika sudah terasa sesuatu yang mendesak akan keluar dari kontolnya.
“Ohh..!!”, suara Ronny terdengar berat.
Setelah mempercepat gerakan kontolnya, dengan cepat pula Ronny mencabut kontolnya dari memek Helena lalu dikangkanginya wajah Helena. Crott! Croott! Croott! Air mani Ronny tumpah menyembur banyak di wajah Helena yang terpejam antara sadar dan tidak.
“Mm..”, hanya suara itu yang keluar dari mulut Helena, lalu tertidur kelelahan.
Malamnya sekitar jam 19.00 Helena terbangun dalam kondisi tubuh telanjang. Tercium aroma khas sperma di ruangan itu. Di lantai terlihat satu kondom bekas pakai yang telah penuh dengan air mani. Juga terdapat bekas pembungkus Viagra di dekatnya.
“Ya Tuhan.. Apa yang terjadi padaku?”, batin Helena sambil meraba wajahnya yang banyak ditumpahi air mani yang hampir kering, juga di perut dan di sekitar memeknya banyak terdapat bekas cipratan air mani yang telah mengering..
“Sudah bangun kamu?”, terdengar suara Dewi mengagetkan Helena.
“Apa yang terjadi padaku, Wi..?”, tanya Helena lemah sambil bangkit dan duduk di pinggir ranjang.
“Kamu ternyata hypersex juga, sayang..”, kata Dewi sambil duduk di samping tubuh telanjang Helena.
“Kamu kuat melayani Ronny sampai beberapa ronde, beberapa jam non stop..”, kata Dewi lagi.
“Udah bangun, Helena?”, tanya Ratna yang baru masuk kamar.
“Welcome to the club, honey..”, kata Ratna sambil tersenyum penuh arti kepada Helena.
“Apa?”, tanya Helena.
“Ini tadi uang yang diberikan Ronny buat kamu..”, kata Ratna sambil melemparkan segepok uang ke pangkuan Helena yang masih telanjang.
“Itu empat juta setengah.. Buat kamu..”, kata Ratna.
“Aku.. Aku tidak mau.. Aku bukan pelacur!”, kata Helena sambil menatap Ratna.
“Terima saja sayang.. Dan mulai sekarang kamu harus menuruti perintah kami untuk melayani laki-laki yang kami tunjuk..”, kata Ratna tegas.
“Kenapa?!”, tanya Helena dengan hati berdebar.
“Karena semua sudah aku rekam..”, kata Ratna sambil memperlihatkan kamera digital.
“Kalau kamu menolak, maka foto-fotomu akan sampai ke tangan suamimu..”, kata Ratna tegas.
“Ya Tuhan..”, Helena langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Sudahlah sayang.. Lagian nanti kamu juga akan mendapat komisi kok..”, kata Dewi sambil mengusap rambut Helena.
“Ratna, aku minta berikan chip foto-fotoku itu.. Please..”, kata Helena memelas.
“Tidak! Ini adalah hidupmu. Aku telah memegang hidupmu..”, kata Ratna tegas.
“Aku bayar berapa pun kamu mau, asal kemarikan chip itu..”, kata Helena sambil bangkit mau merebut kamera di tangan Ratna. Tapi Ratna cepat menghindar.
Helena kemudian menangis sejadi-jadinya. Sejak saat itu Helena menjadi sapi perahan group tersebut dalam menjalankan bisnis mereka. Dengan terpaksa Helena harus menjadi escort lady, walau tentu saja Helena juga mendapatkan imbalan atas jasa kenikmatan yang di berikannya.
E N D

Marsha dan Dhea cucuku

Kakek tua yang seharusnya mencari bekal untuk persiapan kematiannya malah justru berbuat cabul terhadap cucunya. Dasar tua-tua keladi, makin tua makin menjadi, nafsu telah membutakan segalanya. Seperti apa kisah cerita sex sedarah ini, simak berikut ini..
Perkenalkan namaku Budyanto (bukan nama sebenarnya), saat ini usiaku telah menginjak 63 tahun. Boleh dibilang untuk urusan main perempuan aku pakarnya. Ini bisa kukatakan karena pada saat usiaku 13 tahun aku sampai menghamili 3 temanku sekaligus. Dan di usiaku ke 17 sampai dengan 5 orang teman yang aku hamili, satu di antaranya Winnie, seorang gadis peranakan Belanda dan Cina yang pada akhirnya aku terpaksa mengawininya karena hanya dia yang ambil risiko untuk melahirkan bayi atas kenakalanku dibanding gadis lain. Winnie sampai memberiku 3 orang anak, tetapi selama aku mendampinginya dalam hidupku, aku masih juga bermain dengan perempuan sampai usiaku 50 tahun, inipun disebabkan karena Winnie harus tinggal di Belanda karena sakit yang dideritanya hingga akhir hayatnya yaitu 7 tahun yang lalu, otomatis aku harus mendampinginya di Belanda sementara ketiga anakku tetap di Indonesia.
Kira-kira satu tahun yang lalu petualanganku dengan perempuan terjadi lagi, tapi kali ini orangnya adalah yang ada hubungan darah denganku sendiri yaitu Dhea dan Marsha, keduanya merupakan cucuku sendiri. Satu tahun yang lalu, anakku yang kedua mengontakku di Belanda yang memberitahukan bahwa kakaknya yaitu anakku yang pertama dan istrinya mengalami kecelakaanyang akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Aku pun langsung terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta aku lansung menuju ke rumah anakku, di sana aku menemukan anakku dan istrinya telah terbujur kaku dan kulihat Dhea dan adiknya Marsha sedang menagis meraung-raung di depan keduajenazah itu. Sewaktu kutinggal ke Belanda, Dhea dan Marsha masih kecil. Setelah peguburan jenazah kedua anakku, atas anjuran anakku yang kedua, aku diminta untuk tinggal di Jakarta saja dan tidak usah kembali ke Belanda, aku harus menjaga kedua cucuku, aku pun setuju. Sejak saat itu, aku pun tinggal di Indonesia.
Satu minggu aku sudah tinggal di rumah almarhum anakku, dan kutahu Dhea usianya 15 tahun (kelas 3 SMP) sedangkan adiknya Marsha usianya 13 tahun (kelas 1 SMP) ini kutahu karena tugasku sekarang menjaga dan mengantarkan cucuku sekolah. Dhea sudah tumbuh menjadi anak gadis tetapi kelakuannya agak nakal, setiap pulang dari sekolah bukannya belajar malah main ke temannya sampai jam 09.00 malam baru kembali, di saat aku sudah tertidur.
Suatu hari ketika Dhea pulang aku masih terbangun, Dhea langsung masuk kamar setelah mandi dan berdiam di dalam kamarnya yang membuat aku penasaran melihat sikap Dhea, sampai di depan kamarnya sebelum kuketuk aku coba mengintip dari lubang pintu dan aku terkaget-kaget melihat apa yang dilakukan Dhea di kamarnya. TV di kamar itu menyala dimana gambarnya film porno sedangkan Dea sedang mengangkat roknya dan jarinya ditusukkan ke dalam lubang kemaluannya sendiri. Aku mengintipnya hampir 15 menit lamanya yang membuat aku tidak sadar bahwa batangkemaluanku mulai mengeras dan celanaku basah. Setelah itu kutinggalkan Dhea yang masih onani, sedang aku pun ke kamar untuk tidur, tapi dalam tidurku terbayang kemaluan Dhea.
Paginya aku bangun terlambat karena mimpiku. Dhea dan Marsha sudah berangkat sekolah naik angkutan kota. Sore hari aku kembali setelah mengurus surat-surat kuburan anakku. Ketika aku masuk ke ruang keluarga, aku sempat terkejut melihat Dhea sedang menonton TV, pikirku tumben sore-sore Dhea ada di rumah dan aku makin terkejut ketika aku menghampiri Dhea, Dhea sedang melakukan onani sementara TV yang ia tonton adalah film porno yang tadi malam sudah dilihatnya. Dhea pun tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya dimana Dhea sedang asyik-asyiknya onani.
“Dhea… kamu lagi… ngapain?”
“Uh… kakek.. ngagetin aja… nih…”
Dhea yang kaget langsung menutupinya dengan rok dan memindahkan channel TV.
“Kamu kaget.. yach, kamu.. belajar begini sama siapa.. kamu ini bandel yach..”
“Belajar dari film dan bukunya temen, tapi Dhea.. nggak bandel loh… Kek…”
“Sini Kakek.. juga mau nonton,” kataku sambil duduk di sebelahnya.”Kakek mau nonton juga.. Kakek nggak marah sama Dea khan?” katanya agak manja sambil melendot di bahuku.
“Nggak… ayo pindahin channel-nya!”
Gambar TV pun langsung berubah menjadi film porno lagi. Tanpa bergeming, Dhea asyik menatap film panas itu sementara nafasku sudah berubah menjadi nafsu buas dan batang kemaluanku mulai mengeras berusaha keluar dari balik celanaku. “Dhe… mau Kakek pangku.. nggak?” Tanpa menoleh ke arahku Dhea bergeser untuk dipangku. Dhea yang sudah meloloskan celana dalamnya merasa terganggu ketika kemaluannya yang beralaskan roknya tersentuh batang kemaluanku yang masih tertutup celana.
“Ah.. Kakek.. ada yang mengganjal lubang kemaluan Dhea nih dari bawah.”
“Supaya nggak ganjal, rok kamu lepasin aja, soalnya rok kamu yang bikin ganjal.”
Tiba-tiba Dhea menungging dipangkuan melepaskan roknya, badannya menutupi pemandanganku ke arah TV tapi yang kulihat kini terpampang di depan mukaku pantat Dhea yang terbungkus kulit putih bersih dan di bawahnya tersembul bulu-bulu tipis yang masih halus menutupi liang kemaluannya yang mengeluarkan aroma bau harum melati.
“Dhea.. biar aja posisi kamu begini yach!”
“Ah.. Kakek, badan Dhea khan nutupin Kakek… nanti Kakek nggak lihat filmnya.”
“Ah.. nggak apa-apa, Kakek lebih suka melihat ini.”
Pantatnya yang montok sudah kukenyot dan kugigit dengan mulut dan gigiku. Tanganku yang kiri memegangi tubuhnya supaya tetap berdiri sedangkan jari tengah tangan kananku kuusap lembut pada liang kemaluannya yang membuat Dhea menegangkan tubuhnya.
“Ah… Ah… ssh.. sshh…” Pelan-pelam jari tengahku kutusukkan lebih ke dalam lagi di lubamg kemaluannya yang masih sangat rapat. “Aw.. aw… aw.. sakit.. Kek…” jerit kecil Dhea. Setelah lima menit jariku bermain di kemaluannya dan sudah agak basah, sementara lubang kemaluannya sudah berubah dari putih menjadi agak merah. Kumulai memainkan lidah ke lubang kemaluannya. Saat lubang kemaluan itu tersentuh lidahku, aku agak kaget karena lubang kemaluan itu selain mengeluarkan aroma melati rasanya pun agak manis-manis legit, lain dari lubang kemaluan perempuan lain yang pernah kujilat, sehingga aku berlama-lama karena aku menikmatinya.
“Argh… argh… lidah Kakek enak deh.. rasanya.. agh menyentuh memek Dhea… Dhea jadi suka banget nih.”
“Iya… Dhea, Kakek juga suka sekali rasanya, memekmu manis banget rasanya.”
Dengan rakusnya kujilati lubang kemaluan Dhea yang manis, terlebih-lebih ketika biji klitorisnya tersentuh lidahku karena rupanya biang manisnya dari biji klitorisnya. Dhea pun jadi belingsatan dan makin menceracau tidak karuan. “Argh.. sshh.. agh… aghh… tidddaak… Kek… uenak… buanget… Kek.. argh… agh.. sshhh…” Hampir 30 menit lamanya biji klitoris Dhea jadi bulan-bulanan lidahku dan limbunglah badan Dhea yang disertai cairan putih kental dan bersih seperti lendir, mengucur deras dari dalam lubang kemaluannya yang langsung membasahi lubang kemaluannya dan lidahku. Tapi karena lendir itu lebih manis lagi rasanya dari biji klitorisnya langsung kutelan habis tanpa tersisa dan membasahi mukaku. “Arggghh.. aaawww… sshhh.. tolong… Kek… eennaak… baangeeet… deh…” Jatuhlah tubuh Dhea setelah menungging selama 30 menit meniban tubuhku.
Setelah tubuhku tertiban kuangkat Dhea dan kududukkan di Sofa, sementara badannya doyong ke kiri, aku melepaskan semua pakaianku hingga bugil dimana batang kemaluanku sudah tegang dan mengeras dari tadi. Kemudian kedua kaki Dhea aku lebarkan sehingga lubang kemaluan itukembali terbuka lebar dengan sedikit membungkuk kutempelkan batang kemaluanku persis di liang kemaluannya. Karena lubang kemaluannya masih sempit, kumasukkan tiga buah jari ke lubang kemaluannya, supaya lubang kemaluan itu jadi lebar. Ketika jari itu kuputar-putar, Dhea yang memejamkan mata hanya bisa menahan rasa sakit, sesekali ia meringis. Setelah 5 menit lubang kemaluannya kuobok-obok dan terlihat agak lebar, kutempelkan batang kemaluanku tepat di lubang kemaluannya, lalu kuberikan hentakan. Tapi karena masih agak sempit maka hanya kepala kemaluanku saja yang bisa masuk. Dhea pun menjerit.
“Awh… sakit.. Kek… sakit.. banget…”
“Sabar… sayang… nanti juga enak.. deh…”
Kuhentak lagi batang kemaluanku itu supaya masuk ke lubang kemaluan Dhea, dan baru yang ke-15 kalinya batangan kemaluanku bisa masuk walau hanya setengah ke lubang kemaluan Dhea. Dhea pun 15 kali menjeritnya. “Ampun… Kek… sakit.. banget… ampun!” Karena sudah setengah batang kemaluanku masuk, dan mulai aku gerakan keluar-masuk dengan perlahan, rasa sakit yang dirasakan Dhea berubah menjadi kenikmatan.
“Kek.. Kek.. gh… gh… enak.. Kek… terus.. Kek.. terus.. Kek… batang.. Kakek.. rasanya… sampai.. perut Dhea.. terus… Kek!”
“Tuh.. khan… benar.. kata Kakek… nggak.. sakit lagi sekarang.. jadi enak.. kan?”
Dhea hanya mengangguk, kaus yang digunakannya kulepaskan berikut BH merah mudanya, terlihatlah dengan jelas payudara Dhea yang baru tumbuh tapi sudah agak membesar dimana diselimuti kulit putih yang mulus dan di tengahnya dihiasi puting coklat yang juga baru tumbuh membuatku menahan ludah. Lalu dengan rakusnya mulutku langsung mencaplok payudara itu dan kukulum serta kugigit yang membuat Dhea makin belingsatan.
Setelah satu jam, lubang kemaluan Dhea kuhujam dengan batang kemaluanku secara ganas, terbongkarlah pertahanan Dhea yang sangat banyak mengeluarkan cairan lendir dari dalam lubang kemaluannya membasahi batanganku yang masih terbenam di dalam lubang kemaluannya disertai darah segar yang otomatis keperawanan cucuku Dhea telah kurusak sendiri. Dhea pun menggeleparlalu ambruk di atas Sofa. “Agh… agh.. agh.. argh… argh… sshh… ssshh… argh… gh.. gh… Dhea… keluar.. nih.. Kek.. aw… aw…”
Lima belas menit kemudian aku pun sampai pada puncak kenikmatan, dimana tepat sebelum keluar aku sempat menarik batang kemaluanku dari lubang kemaluan Dhea dan menyemburkan cairan kental hangat di atas perut Dhea dan aku pun langsung ambruk meniban tubuh Dhea. “Aw.. agh.. agh.. Dhea.. memekmu.. memang.. luar biasa, kontol Kakek.. sampai dipelintir di dalam memekmu…agh… kamu.. me.. memeng… hebat…”
Setengah jam kemudian, dengan terkaget aku terbangun oleh elusan tangan lembut memegangi kontolku.
“Kakek… habis… ngapain.. Kakak Dhea… kok… Kakak Dhea dan Kakek telanjang… kayak habis.. mandi.. Marsha juga.. mau dong telanjang.. kayak… Kakek dan.. Kakak Dhea.”
“Hah.. Marsha jangan… telanjang!”
Tapi perkataanku kalah cepat dengan tindakannya Marsha yang langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Marsha pun bugil. Aku terkejut melihat Marsha bugil dimana tubuh anak umur 11 tahun ini kelihatan sempurna, lubang kemaluan Marsha yang masih gundul belum tumbuh bulu-bulu halus tetapi payudaranya sudah mulai berkembang malah lebih montok dari payudara Dhea. Kulit tubuh Marsha pun lebih putih dan mengkilat dibanding kulit tubuh Dhea, sehingga membuat nafsu seks-ku kembali meningkat.
“Kek… Marsha kan tadi ngintip ketika perut Kakak Dhea dimasukin sama punya kakek.. Marsha juga mau dong.. kata mama dan papa, kalau Kakak Dhea dapat sesuatu pasti Marsha juga dapat.”
“Oh… mama dan papa bilang begitu yach, kamu memang mau perut kamu dimasukin punya Kakek.”
“Iya.. Kek.. Marsha mau sekali.”
Tanpa banyak basa-basi kusuruh Marsha terlentang di atas karpet. Dengan agak riang Marsha langsung terlentang, aku duduk di sampingnya kedua kakinya aku lebarkan sehingga lubang kemaluannya yang gundul terlihat jelas. Kusuruh Marsha menutup mata. “Marsha sekarang tutup matanya yach, jangan dibuka kalau Kakek belum suruh, nanti kalau sakit Marsha hanyaboleh bilang sakit.” Marsha pun menuruti permintaanku. Lubang kemaluannya kuusap dengan jari tengahku dengan lembut dan sesekali jariku kumasukkan ke lubang kemaluannya. Tangan kiriku dengan buasnya telah meremas payudaranya dan memelintir puting yang berwarna kemerahan. Marsha mulai menggelinjang. Dia tetap memejamkan matanya, sedang mulutnya mulai nyerocos. “Ah… ah… ah.. sshh.. ssh…” Kedua kakinya disepakkan ketika jari tengahku menyentuh klitorisnya. Lidahku mulai menjilati lubang kemaluannya karena masih gundul, dengan leluasa lidahku mengusapliang kemaluannya sampai lidahku menyentuh klitorisnya. Dikarenakan usianya lebih muda dari Dhea maka lubang kemaluan dan klitoris Marsha rasanya belum terlalu manis dan 10 menit kemudian keluarlah cairan kental putih yang rasanya masih hambar menetes dengan derasnya dari dalam lubang kemaluannya membasahi lidahku yang sebagian tidak kutelan karena rasanya yang masih hambar sehingga membasahi paha putihnya.
“Ah… ah… ngeh.. ngeh… Marsha.. basah nih Kek…” Kuambil bantal Sofa dan kuganjal di bawah pantat Marsha sehingga lubang kemaluan itu agak terangkat, lalu kutindih Marshadan kutempelkan batang kemaluanku pada lubang kemaluannya yang masih berlendir. Kuhentak batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Marsha yang masih lebih rapat dari lubang kemaluan Dhea. Kuhentak berkali-kali kemaluanku sampai 25 kali baru bisa masuk kepala kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha. 25 kali juga Marsha menjerit.
“Aw.. aw.. sakit.. Kek… sakit.. sekali..”
“Katanya kamu mau perutmu aku masukin punya Kakek seperti lubang kemaluan Kakak Dhea.”
“Iya Kek… Marsha mau… Marsha tahan aja deh sakitnya.”
Kepala kemaluanku yang sudah masuk ke lubang kemaluan Marsha kehentak sekali lagi, kali ini masuk hampir 3/4-nya batang kemaluanku ke lubang kemaluan Marsha, ini karena lubang kemaluan Marsha masih licin sisa lendir yang tadi dikeluarkannya. “Hegh… hegh… hegh.. iya Kek sekarang Marsha nggak sakit lagi… malah enak.. rasanya di perut Marsha ada yang dorong-dorong… Hegh.. Hegh…” komentar Marsha ketika menahan hentakan batang kemaluanku di lubang kemaluannya. Setelah 30 menit lubang kemaluannya kuhujam dengan hentakan batang kemaluanku, meledaklah cairan kental dan tetesan darah dari lubang kemaluan Marsha keluar dengan derasnya yang membasahi kemaluanku dan pahanya. Marsha pun langsung pingsan. “Arrgh.. arrghh.. ssh… Kek… Marsha.. nggak kuat… Kek… Marsha.. mau pingsan… nih… nggak.. ku.. kuaatt…”
Pingsannya Marsha tidak membuatku mengendorkan hentakan kemaluanku di lubang kemaluannya yang sudah licin, malah membuatku makin keras menghentaknya, yang membuatku sampai puncak yang kedua kalinya setelah yang pertama kali di lubang kemaluannya Dhea, tapi kali ini aku tidak sempat menarik batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluan Marsha sehingga cairan kental hangat itu kubuang di dalam perut Marsha dan setelah itu baru kulepaskan batang kemaluanku dari lubang kemaluan Marsha yang masih mengeluarkan lendir. “Ah.. ah… ser… ser… ser… jrot.. jrot.. agh… ag.. ssh… argh…” Tubuhku pun langsung ambruk di tengah Marsha yang pingsan di atas karpet dan Dhea yang tertidur di sofa. Satu jam kemudian aku terbangun di saat batang kemaluanku berasa dijilat dan ketika aku melirik aku melihat Dhea dan Marsha sedang bergantian mengulum batang kemaluanku dan menjilati sisa cairan lendir tadi, kuusap kedua kepala cucuku itu yang lalu kusuruh keduanya mandi.
“Dhea.. sudah.. sayang.. sana ajak adikmu.. bersih-bersih dan mandi setelah itu kita ke Mall, beli McDonal.. ayo sayang!”
“Kek.. Dhea puas deh.. lain.. kali lagi yach Kek!”
“Asyik beli McDonal.. tapi lain kali lagi yach… Kek, perut Marsha jadi hangat.. deh.. enak..”
“Iya.. sayang.. pasti lagi.. ayo sekarang Kakek yang mandiin.”
Setelah itu kami pun mandi bertiga, sejak saat itu kedua cucuku selalu tiap malam minta coba lagi keganasan batang kemaluanku. Aku pun tersenyum bangga bahwa aku memang penakluk perempuan, walau perempuan yang aku taklukan adalah kedua cucuku yang sekarang tinggal bersamaku

Aku dan Om Deni

Pernah liat realty show di tv dimana ada bapak-bapak yang maen ama temen anaknya? Ngeliat show itu aku jadi inget ama bapaknya Dina. Critanya gini. Dina itu temenk…u. Aku sering maen kerumahnya sehingga aku akrab sama ortunya.
Cuma aku heran aja ngeliat ibunya Dina, masih muda banget. Kalo jalan ama Dina kaya kakak adek aja. …Bapaknya, om Deni, Usianya 40an lah, ganteng dan atletis badannya. Aku bingung melihat sikap om Deni padaku, akhir-akhir ini sering sekali dia ngajakin aku ngobrol biar sebenarnya aku dateng untuk ngobrol ama Dina. Tingkahnya makin menjadi-jadi, dia selalu mengeluh padaku karena gairah sexnya tidak terpuaskan, ibunya Dina kelihatannya sudah enggan meladeni napsu suaminya.

Ketika aku nanya kenapa, si om gak mo jelasin alesannya. Ya aku sih nanggepinnya gitu-gitu aja. Aku merasa dia sedang merayuku untuk mau meladeni nafsunya. Aku mula-mula sungkan dengan tingkahnya, tetapi karena seringnya dia melakukan hal yang sama, buatku menjadi biasa. Dina hanya tersenyum ketika kulapori ulah bapaknya (tentunya secara umum, aku gak crita ama Dina kalo dia ngeluh ibunya gak mo ngelayani bapaknya), dia bilang, itu tandanya papah sayang sama aku. Aku dah dianggep kayak anaknya.
Pada suatu sore aku datang lagi ke rumah Dina. Cuma Dina ama ibunya lagi ada keperluan ke Bogor, nginep disana, pulangnya besok. Ketika aku pamit, om Deni minta nemenin dia ngobrol aja. Aku diajaknya keluar cari makan malem di mall. Di mall aku digandengnya, kadang pundakku dipeluknya.
Aku jadi risi,
“Om, gak enak diliat orang”, kataku.
“Gak ada yang kenal ini kan, cuek aja”, jawabnya.
Aku akhirnya mendiamkan ulahnya. Aku dibelikan pakean oleh si om. Kemudian baru cari makan.
Si om pesen sate kambing.
“Om, makan kambing ntar ngembek lo, kan tante lagi di Bogor”.
“Ada dia juga percuma Nes, kan aku gak puas ama dia”.
“Trus yang ngeladenin embeknya om apa?” “Kamu ya”. Aku kaget juga mendengar jawabannya.
Ternyata benar dugaanku, dia mengharapkan aku meladeni napsunya. Tapi aku diem aja, aku mengalihkan pembicaraan ke hal laennya. Seusai makan, aku diajaknya mampir lagi ke rumahnya. Ku iya kan aja, walaupun aku tau maksud sebenarnya si om. Aku pengen juga ngerasain maen ama bapaknya Dina, dia tipe lelaki kesukaanku, apalagi aku dah dibeli-beliin ama dia.
Sampai dirumah, dia mendadak memelukku dari belakang.
“Nes, kamu merangsang sekali deh”. Aku gak terkejut dengan ulahnya walaupun belum pernah dilakukan sebelumnya, aku membiarkannya saja.
Aku malah merasa.
“Om, nanti dilihat orang lo, pintunya masih terbuka”, kataku.
Dia melepaskan pelukannya dan menutup pintu rumah. Dia duduk di sofa dan minta aku duduk disampingnya, ketika aku duduk dia segera memeluk dan bibirnya langsung menyambar bibirku. Aku larut dalam lumatan bibirnya yang ganas, lidahnya menyusup ke dalam mulutku dan melilit lidahku, spontan aku membalas aksinya dengan menyambut ciuman ganasnya, akupun mengemut lidahnya yang menari-nari didalam mulutku.
“Om nekatt..” kataku.
“Abisnya kamu ngegemesin sih..” Kembali dia mencium bibirku, tangannya kali ini menggerayangi tetekku, diremas-remasnya pelan-pelan sehingga aku mulai terhanyut oleh napsuku yang mulai berkobar.
Jemarinya menyusuri pahaku, menyingkap rokku ke atas, sehingga terpampanglah pahaku, dia tambah bernapsu. Sambil terus mengulum bibirku, tangannya mengelus pahaku makin keatas sehingga rokku makin tersingkap, sampai jarinya menyentuh bukit mekiku. Otomatis pahaku merenggang memberi kesempatan jemarinya untuk bermain lebih leluasa di bukit mekiku.
Terasa jari nakalnya mulai menyusup kedalam CD ku dan mengilik itilku, aku menggelinjang, napsuku makin berkobar saja.
“Om, aah”, erangku.
“Kenapa Nes, kamu dah napsu ya, ke kamar yuk biar lebih asik”, jawabnya sambil bangkit dan setengah menyeretku ke kamar.
Aku hanya ngikut saja ketika dia menarikku ke kamar, kewarasanku sudah tertutupi napsuku yang berkobar, napsuku yang memaksaku mengikuti kehendak bapak temenku karena dorongan keinginan merasakan kepuasan di ranjang. Di kamar, langsung saja aku ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas-remas tetekku yang sudah mengeras, pentilku di pilin-pilinnya, aku hanya bisa ber… ah… uh karena rangsangan yang luar biasa itu. Aku malah mengimbangi ciuman ganasnya, aku ditariknya ke ranjang.
Pentilku langsung diserbunya, diemut-emutnya dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras, sementara itu tetekku terus saja diremas-remasnya. Puas mengemut pentilku, jilatan lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di mekiku. Lidahnya segera membelah bibir mekiku dan menjilati itilku, aku mengangkangkan pahaku sehingga mempermudah dia menggarap itilku.
Aku mulai mengerang-ngerang saking nikmatnya yang melanda tubuhku.
“Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..” badanku melintir, bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di itilku.
Dia makin bersemangat karena eranganku. Tiba-tiba dia melepaskan jilatannya, segera dia melepaskan semua pakaiannya. Batangnya yang besar dan panjang sudah sangat keras. Dia segera menaiki tubuhku yang sudah telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala batangnya dengan ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir mekiku dan langsung ditusuk masuk.
“Hhgghh..” sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan batangnya. 
Tapi karena sudah cukup siap, dengan mudahnya dia menancapkan batangnya ke dalam mekiku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya batangnya yang cepat amblas ke dalam mekiku. Begitu tertanam didalam, aku menahan pinggangnya agar sodokannya jangan terus berlanjut. Dia menungguku sampai sudah siap, baru batangnya dienjotkan keluar masuk pelan-pelan.
Mula-mula terasa aneh ketika batangnya mulai memompa mekiku, terasa banget batangnya yang besar menyeruak masuk mengisi lobang mekiku yang terdalam.
“Hhsssh, dalemm bangett om..” spontan keluar eranganku.
“He.ehh.. tapi kan nggak sakit?” tanyanya.
“Enggak kok om, malah nikmat banget rasanya”, jawabku terengah.
Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit pahanya.
“Gimana rasanya.. nggak sakit kan?”
“Nggak.. enak malah geli sampe ke dalem-dalem sini.” jawabku sambil mengusap-usap perut atasku.
“Apanya yang enak?”
“Ngg.. batang om..” jawabku.
Dia makin gencar mengenjotkan batangnya keluar masuk sehingga aku makin menggeliat saking nikmatnya.
“Om enakk om.. Iya.. Duhh dalem bangett masuknya om.. Aaa.. dikorek-korek gitu Ines pengenn keluarr. Ayyo om.. adduuh”, erangku gak karuan.
“Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak mekimu Nes.. Om juga mo keluaarr.. sshmmmh..”
“Hhsss.. aduuhh tobatt om.. hahgh ooghh.. batangnya kok masuk dalem sekali om, gedee sekalli, aduuh.. om..” batangnya makin dipompa keras-keras, nikmat banget rasanya.
“Heg.. yaang kerass omh.. shh iya gittu.. aduh.. ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo om.. aaahgh.. sshgh.. Iyya om, Ines udah mo nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..” Dia meremas-remas tetekku, sampai akhirnya akupun nyampe.
Dadaku membusung, seolah-olah tubuhku terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua tetekku. Tapi menjelang tiba di saat dia muncrat, dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk.
Dia menekan kepalaku ke arah batangku yang tegang mengangguk-ngangguk berlumuran cairan mekiku.
“Ayo Nes isepin sampe keluarr..” Tanpa ragu-ragu aku langsung mencaplok dan mengocok batangnya dengan mulutku.
Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya saja dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia muncrat di mulutku. Aku agak tersedak karena semprotan maninya yang tiba-tiba, dia terus menekan kepalaku supaya aku tidak melepaskan kulumanku sehingga maninya tertelan olehku.
Setelah keluar semua, aku melepas mulutku, langsung meringis.
“Kenapa Nes, nggak enak ya rasanya?” tanyanya geli.
“Asin rasanya om..” jawabku ikut geli.
“Maaf ya? Terpaksa om tumpahin di mulut, soalnya kalo di mekimu nanti jadi lagi.”
“Nggak pa-pa kok om, sekali-sekali buat pengalaman baru kok..”
“Kalo sering-sering emang kenapa?”
“Emang enak sih dikeluarin pake mulut?” kataku sambil bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini.
“Oo.. sama kamu sih pasti enak aja.” jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.
Di kamar mandi, dia memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya mulai meremas tetekku, pentilnya diplintir-plintir sambil menciumi kudukku. Aku menggelinjang kegelian. Aku mencari batangnya, astaga, sudah mulai tegang lagi rupanya.
Kuat banget dia, baru aja muncrat di mulutku sudah mulai ngaceng lagi.
“Kuat banget sih om, baru Ines emut sampe muncrat udah ngaceng lagi”, kataku.
“Iya tadi kan muncrat dimulut kamu, sekarang pengen muncrat di meki kamu”, jawabnya sambil terus meremesi tetekku.
Leherku terus saja diciumi, dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam, batangnya yang makin keras aku remes dan kocok-kocok biar sempurna ngacengnya.
“Om, Ines isep lagi ya”, kataku sambil jongkok di depannya.
Ujung batangnya kujilati dan kemudian giliran kepala batangnya, terus ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati batangnya. Kemudian jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum.
Kepalaku mengangguk-ngangguk seiring keluar masuknya batangnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku elus-elus.
“Aah Nes, nikmat banget deh”, erangnya.
Dia memegang rambutku dan mendorong batangnya keluar masuk mulutku dengan pelan. Sepertinya dia udah tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan ditelentangkan di ranjang. Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan. kemudian jilatannya turun ke perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke jembutku. Jarinya mulai mengelus bibir mekiku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi mekiku yang sudah basah kembali. Jilatannya tidak langsung ke it1lku tapi berputar-putar sekitar mekiku. Ke daerah paha, terus ke daerah pantat dan naik lagi.
“Om, nakal ih”, desahku, napsu sudah kembali menguasaiku.
Jilatannya diarahkan ke it1lku sambil memasukkan jarinya ke mekiku. Dia menggerakkan jarinya keluar masuk mekiku.
“Om aah”, desahku saking napsunya.
Pinggulku menggeliat kekiri kekanan. Akhirnya sampailah saat yang kutunggu-tunggu, dia menaiki badanku, ditindihnya aku, batangnya diarahkan ke mekiku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap-usapkan dibibir mekiku. Aku mengangkat pantatku ke atas sehingga bless masuklah kepala batangnya membelah bibir mekiku. Dia mulai mengeluar masukkan batangnya ke mekiku, pelan-pelan, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh batangnya nancep dalem sekali di mekiku.
“Om, nikmat sekali”, jeritku.
Aku menggelinjang makin gak beraturan seiring dengan enjotan batangnya keluar masuk mekiku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan batangnya ke dinding mekiku, nikmat banget. Mekiku mulai berdenyut-denyut meremes-remes batangnya yang terus bergerak lincah keluar masuk.
“Om, Ines udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras om, aah”, erangku lagi. Dia makin semangat mengenjot mekiku.
Tiba-tiba dia berhenti dan mencabut batangnya,
“Om”, protesku. Ternyata dia pengen ganti posisi
Aku disuruhnya nungging dan kembali batangnya melesak masuk mekiku dari belakang, doggie style. Pantatku dipeganginya sementara dia mengenjotkan batangnya keluar masuk. Tetekku yang berguncang-guncang seirama dengan enjotan batangnya diraihnya, diremes-remesnya, pentilnya diplintir-plintir, menambah kenikmatan yang sedang mendera tubuhku.
“Terus om”, erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya.
Aku memaju mundurkan badanku supaya batangnya nancep dalem sekali di mekiku, sampe akhirnya,
“Terus om, Ines nyampe lagiii”. Dinding mekiku berdenyut-denyut mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot mekiku dengan cepat.
Aku nelungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya. Dia membaringkan dirinya, batangnya masih tegak berdiri berlumuran cairan mekiku.
“Nes, kamu yang diatas ya, om belum keluar neh”, pintanya.
Aku menempatkan diriku diatasnya, batangnya kupegang dan langsung kutancapkan ke mekiku, badan kutekan kebawah sehingga langsung aja batangnya ambles semua di mekiku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri kekanan, maju mundur, berputar-putar. Biar cape, tapi nikmat banget rasanya gesekan batangnya ke mekiku. Tetekku diremes-remesnya sambil memlintir-mlintir pentilnya.
Aku merubah gerakanku menjadi keatas ke bawah mengocok batangnya dengan mekiku.
“Om, nikmat banget om”, erangku. Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, aku ambruk di dadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya.
“Om, belum mau muncrat ya, Ines lemes om”, desahku.
“Tapi nikmat kan”, jawabnya.
“Nikmat banget om”. Dia berguling tanpa mencabut batangnya dari mekiku sehingga sekarang dia ada diatasku.
Dia mulai lagi mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku.
“Nes, udah mau muncrat, di dalem ya”, erangnya sambil mempercepat enjotannya.
“Muncratin di dalem aja om, kan om pengen muncrat di dalem mekinya Ines”, jawabku terengah.
Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku, sampe akhirnya,
“Nees”, erangnya.
Terasa sekali semburan maninya membanjiri mekiku. Kami berdua terkulai lemas.
“Nes, nikmat banget deh maen ama kamu, lebih nikmat dari Dina”. Aku kaget mendengarnya.
“Dina kan…”
“Dina anak tiri kok Nes. Pernah satu waktu, om cuma berdua ama Dina dirumah. Mamanya Dina lagi ke Bogor. Om denger Dina lagi ah uh di kamarnya. Om buka pintunya, Dina gak ngunci pintunya. Dina lagi telanjang bulet ngilik it1lnya sendiri. Om gak tahan deh ngeliatnya. Om ajak maen aja si Dina. Dinanya mau, dia rupanya dah napsu skali rupanya. Sejak itu om dah beberapa kali maen ama Dina kalo mamanya gak dirumah. Dina juga bilang kalo kamu juga nikmat kalo dientot, makanya om selalu memperhatikan kamu, horny banget ngeliat kamu bahenol gini”.
“Oooo…” cuma itu yang terucap dari mulutku.
“Terus, napa mamanya Dina masih muda banget om, kok dia gak bisa muasin om?”
“Mamanya Dina itu kawin muda sekali, kebobolan, dah hamil duluan. Masih SMU ketika itu, Dina lahir. Kaya kakak adik ya ama Dina. Dia itu kalo dah klimax langsung lemes, sedang om masih pengen lagi”.
“Ooo..” lagi terlontar dari mulutku.
“Kamu tidur disini aja ya Nes, mereka kan baru pulangnya besok. Om belum puas neh, masih pengen lagi ngerasain empotan meki kamu. Hebat banget deh Nes empotan kamu, nikmatnya ampe ke ubun-ubun”.
“Istirahat dulu ya om”.
“Iya, om juga cape kok, kita tidur aja yuk”. Tak lama kami terlelap dalam keadaan telanjang bulat.
Paginya aku terbangun, om Deni masih tertidur, aku turun dari ranjang ke kamar mandi mo pipis dan sikat gigi. Kembali ke kamar si om dah bangun, kulihat batangnya dah ngaceng lagi dengan kerasnya.
“Om, luar biasa deh, tuh dah ngaceng lagi”.
“Iya Nes, dah pengen ngerasain empotan kamu lagi”. Dia lalu berbaring telentang di ranjang, lalu aku jongkok di atasnya dan menciuminya, tangannya mengusap-usap punggungku. Bibirnya kukulum,
”Hmmmhh… hmmhhh…” dia mendesah-desah.
Setelah puas melumat bibir dan lidahnya, aku mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Terus kebawah lalu kuciumi dadanya.
“Hmmmhhh… aduh Nes enak ..” rintihnya.
Dia terus mendesah sementara aku mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali dia berteriak kecil kegelian. Akhirnya batangnya yang sudah ngaceng berat kupegang dan kukocok-kocok,
“Ahhhhh… Hhhh…. Hmmhmh… Ohhh Nes…” dia cuman bisa mendesah doang.
Batangnya langsung kukenyot-kenyot, sementara dia meemas-remas rambutku saking enaknya,
“Ehmm… Ehmm…” Mungkin sekitar 5 menitan aku ngemut batangnya, kemudian aku bilang,
“Om… sekarang giliran om yach?” Dia cuma tersenyum, lalu bangkit sedangkan aku sekarang yang ganti tiduran.
Dia mulai nyiumin bibirku, turun ke leherku sementara tangannya meraba-raba tetekku dan diremasnya.
“Hmhmhhm… Hmhmhmh…” ganti aku yang mendesah keenakan.

Apalagi ketika dia menjilati pentilku yang tebal dan berwarna coklat tua. Setelah puas melumat pentilku bergantian, dia mulai menjilati perutku, kemudian langsung menciumi mekiku dengan penuh napsu, otomatis pahaku mengangkang supaya dia bisa mudah menjilati meki dan it1lku.
“Ahh.. Ahhhh…” aku mengerang dan mendesah keras keenakan. Sesekali kudengar
“slurrp… slurrp…” dia menyedot mekiku yang sudah mulai basah itu.
”Ahhhh… om… Enak …” desahanku semakin keras saja karena merasa nikmat.
Napsuku sudah sampe ubun-ubun, dia kutarik untuk segera menancapkan batang besarnya di mekiku yang sudah gatel sekali rasanya, pengen digaruk pake batang. Pelan-pelan dia memasukkan batangnya ke dalam mekiku. Dengan satu enjotan keras dia menancapkan seluruh batangnya dalam mekiku.
“Uh… uhhh…. Ahhhhhhh… nikmat banget om” desahku ketika dia mulai asyik menggesek-gesekkan batangnya dalam mekiku.
Aku menggoyang pinggulku seirama dengan keluar masuknya batangnya di mekiku. Dia mempercepat gerakannya. Gak lama dienjot aku sudah merasa mau nyampe,
“Ah… om… Ines sepertinya mau… ahhh…” dia malah mempergencar enjotan batangnya dimekiku,
“Bareng nyampenya ya Nes, aku juga dah mau ngecret”, katanya terengah. Enjotan batangnya makin cepat saja, sampe akhirnya,
“Om, Ines nyampe aah”, badanku mengejang karena nikmatnya, terasa mekiknu berdenyut-denyut meremas batangnya sehingga diapun menyodokkan batangnya dengan keras,
“Nes, aku ngecret aah”, terasa semburan pejunya yang deres dimekiku.
Dia terkapar lemes diatas badanku, demikian pula aku. Setelah istirahat sejenak, dia mencabut batangnya, memakai pakaiannya dan keluar meninggalkan aku terkapar telanjang di ranjang. Sejak itu setiap ada kesempatan, aku selalu minta dientot sama om.
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net